Anjingmu Jadi Vegan? Apakah Itu Etis?

Ilustrasi oleh Ben Thomson

Dalam kolom yang tayang Desember 2018, koresponden Majalah The Economist John Parker memprediksi 2019 akan menjadi “tahunnya para vegan.” Menurutnya, tahun ini “diet vegan akan semakin jadi gaya hidup arus utama di banyak negara.” Buktinya sudah langsung nampak, muncul menu McVegan di jaringan resto waralaba McDonald’s. Kita bakal lebih sering menyaksikan berbagai konsekuensi terhadap lingkungan dan kehidupan sosial, seiring makin populernya gaya hidup hanya makan sayuran.

Salah satu konsekuensi yang jarang terpikirkan, barangkali, adalah fakta hewan peliharaan turut mengadopsi diet vegan. Para pemilik hewan peliharaan yang vegetarian merasa anjing mereka juga sanggup mengkonsumsi makanan berbasis sayur. Ada bahkan yang menganggap tidak ada gunanya memberi anjing makan daging, toh anjing bisa dibiasakan makan sayur doang sejak kecil. Namun, apakah itu etis?

“Secara pribadi, saya menginginkan anjing peliharaan bisa sehat, bugar, dan bahagia. Saya tahu semua itu tidak dapat difasilitasi gaya hidup vegan,” ujar Clare Kearney, ahli nutrisi hewan holistik berbasis di Australia. Dia membenarkan anjing bisa bertahan tanpa ayam atau makanan kalengan berbasis daging. Tapi ia masih ragu apakah bertahan hidup doang adalah standar tujuan saat manusia memutuskan punya hewan peliharaan.

“Kita harus realistis. Memberi pasokan makanan vegan yang memadai dari segi nutrisi untuk seekor anjing sangat sulit, terutama tanpa penambahan gizi sintetis. Saya tidak menyarankan kamu mencoba membuat anjingmu makan sayuran doang tanpa konsultasi ahli nutrisi. Karena kamu kemungkinan besar akan gagal,” katanya.

Oke, tanggapan Claire cukup negatif. Di sisi lain, dia mengakui anjing sangat mungkin hanya diberi sayuran. Dia pun menyitir fakta, kalau lambung anjing dilengkapi dua enzim—amilase dan maltase—yang mampu mencerna sayuran bertepung seperti kentang, polong-polongan, dan sayuran hijau dengan mudah.

Meskipun anjing mampu mencerna sayur, tubuh mereka membutuhkan lebih banyak protein. Oleh karena itu, mengubah pola makan anjing menjadi vegan seperti sang pemilik bisa membuat mereka kekurangan protein kolagen, elastin, dan keratin yang dibutuhkan untuk kesehatan kulit, otot, dan sendinya. Kadang protein-protein tersebut tersedia dalam bentuk suplemen, tapi dengan harga yang sangat mahal.

Satu kantong pengganti daging vegan berjenis “dog kibble” harganya sekitar Rp580 ribu per kantong. Sebagai perbandingan, sekantong makanan anjing dari Pedigree harganya hanya Rp90 ribuan. Selain itu repot banget, kamu harus pergi ke toko hewan khusus untuk mencari suplemen supaya tak perlu memberi makan anjingmu daging.

Kalau semua persoalan teknis tadi bisa dicari solusinya, mari kembali ke pertanyaan mendasar sejak awal artikel: apakah tindakan si pemilik anjing etis? Karena berbeda dari manusia yang dapat memilih makanan yang hendak dia dikonsumsi, anjing tidak bisa memilih. Jadi, apakah adil memaksa ideologi pribadi kita pada anjing peliharaan?

Menurut Peter Wedderburn, dokter hewan asal Irlandia, pemilik yang mengajarkan anjingnya jadi vegan sangat mungkin berperilaku kejam, tanpa mereka sadari. Dengan hanya makan sayur, anjing tidak boleh hanya dapat asupan gizi memadai. Itupun menunya harus diformulasi ahli dan tidak dibuat asal-asalan. Selain itu, menu makanan anjing yang dilatih jadi vegan harus bervariasi dan menarik.

“Bagi semua makhluk hidup, makan itu harus menyenangkan,” ujarnya saat dihubungi VICE lewat email. “Pemilik anjing wajib menyediakan makanan yang disukai anjingnya.”

Lagi-lagi, Wedderburn mengakui diet vegan bagi anjing dapat dilakukan. “Coba saja tawarkan kentang kepada anjing dan dia pasti akan langsung melahapnya… anjing tidak memerlukan daging untuk menikmati makan.” Hanya saja, kentang tidak cukup untuk anjing.

Inilah dilema terbesar penganut gaya hidup vegan. Perusahaan daging memang kacau dan kejam. Mengajak anjing untuk hanya makan sayur terbukti mahal, rumit, dan merepotkan. Tapi, jika kalian adalah orang yang berhasrat melawan pemanasan global, silakan saja mengajak anjingmu tak lagi makan daging.

Seperti yang dilaporkan the New York Times, sekitar delapan persen emisi gas rumah kaca global berasal dari sapi. Jika pembenaran itu masih kurang, jangan lupa kalau makanan anjing terutama merupakan produk peternakan massal: industri yang secara etis paling memuakkan dan tercela karena perilaku kejamnya terhadap binatang.

Pendeknya, melatih veganisme anjing bisa dibilang ide mulia… tapi merepotkan dan berpotensi membuatmu tak adil sama anjing peliharaanmu sendiri.

Jika memberi makan vegan kepada anjing membuatmu konflik batin, karena kamu sayang anjing tapi tak ingin memberinya daging kalengan yang bertentangan sama ideologi veganisme, Claire memberi saran layak dicoba: “mungkin lebih baik kamu memelihara kelinci saja.”

sumber