Duka Dan Suka Petugas Wanita K9 BNN Dengan Anjing Pelacak

Belum genap satu tahun Widya Hutahayan bekerja sebagai pawang anjing di Unit Deteksi K-9 Badan Narkotika Nasional, namun dia sudah harus merasakan kesedihan yang mendalam.

Tepatnya pada hari raya Idul Fitri pertengahan Juni lalu, perempuan asal Sibolga, Sumatra Utara, itu harus berpisah dengan rekan kerja yang kala itu baru 5,5 bulan menemani hari-harinya.

Flor, anjing ras Labrador retriever berusia tiga tahun sudah terbujur kaku ketika Widya menyambangi rumah sakit hewan tempat dia dirawat selama beberapa pekan, pada 14 Juni silam.

“Ketika semua mudik lebaran dan saya sedang pergi, ada teman menelepon dan bilang kalau Flor muntah darah. Saya datang ke sana, di perjalanan ke BSD [tempat Flor dirawat] dia ternyata sudah meninggal. Ketika sampai di sana Flor sudah dingin,” cerita Widya saat ditemui Anadolu Agency di Pusat Pelatihan K-9 BNN di kawasan Lido, Jawa Barat, Kamis.

Perempuan berusia 21 tahun itu kemudian mengaku menangis sejadi-jadinya ketika melihat badan rekan kerjanya itu sudah membeku.

“Karena saya kan sudah terlanjur sayang, mengurus dia sudah kayak anak sendiri. Ketika dia sakit, saya temenin, saya tidur di situ. Karena tiap dia mau disuntik harus ditemani,” ujar Widya.

Widya bercerita, proses bonding atau membentuk ikatan dengan Flor terbilang sangat cepat yakni dua bulan sejak dia pertama kali menjejakkan kaki di Pusat Pelatihan K-9 BNN pada 1 Januari 2018.

Semasa Flor sehat, setiap hari Widya mengaku membiasakan diri melihat peliharaannya itu dengan intens. Dia mengajak Flor bermain, berolahraga, hingga mendandaninya.

Satu pekan sekali, Widya pun memandikan hewan berbadan besar yang disebutnya sebagai anjing paling cantik di K-9 BNN itu.

“Saya ajak main pagi -sore, kasih makan, kasih perhatian lebih. Anjing itu kalau kita kasih elusan dan sentuhan tulus, dia itu akan ngerasa nyaman sama kita. Dia tahu bahwa pawangnya ini sayang sama dia,” kenang Widya.

Meski kasih sayang telah banyak dicurahkan untuk Flor, kedekatan Widya dengan anjing berbulu cokelat keemasan itu pun mulai berkurang. Sakit yang diderita Flor membuat Widya harus ‘memegang’ anjing lain untuk diurus.

Pepa nama pengganti Flor. Anjing jantan ras Belgian Malanois itu menjadi pengganti Flor. Bersama Pepa, Widya pun belajar ‘move-on’ dari kesedihan karena tak lagi dapat bersama Flor setiap harinya.

“Paling sedih waktu Flor ngeliat saya ngumbar (sebutan untuk mengajak bermain atau menemani anjing) Pepa. Mungkin Flor merasa bukan dia lagi yang disayang,” kata Widya.

Meski begitu, Widya mengaku tidak mudah untuk mengalihkan perhatian dari Flor ke Pepa. Dia pun terpaksa berbagi hati.

Sampai akhirnya Flor mendapat perawatan intens di rumah sakit hewan, Widya pun menyadari juga harus memberi perhatian penuh kepada Pepa.

“Saya ngelihat Pepa jadi rasanya kasihan juga kalau dia enggak dapat kasih sayang Saya. Kadang kalau Saya datang, Pepa mengalihkan wajah dan lebih mau dielus oleh mentor aku,” ungkap Widya.

Dengan kepergian Flor, perhatian Widya sekarang hanya menjadi milik Pepa. Anjing berperawakan tinggi itu yang menjadi teman setia hari-hari Widya selanjutnya.

Sedangkan Flor akan bersemayam dengan tenang lewat foto yang dipajang di samping tempat tidur Widya di barak.

“Mereka itu partner kerja kita. Kalau kita enggak seutuhnya ngasih hati kita buat dia, ya nanti dia juga enggak bonding. Nyarinya (sebutan untuk saat operasi) juga enggak maksimal karena ngerasa enggak dirawat sepenuh hati,” tutur dia.

Kini, Widya menjalani hari-harinya bersama Pepa tanpa membagi perhatian. Bersama Pepa, dia pun mendapat pengalaman-pengalaman baru.

Salah satunya ketika Pepa berhasil mengendus narkotik saat gelaran operasi yang dijalani BNN di kawasan Merak, Banten, sekitar Agustus lalu.

“Saya pernah ikut operasi sama Pepa kemarin dapat sabu di Merak,” tukas Widya bangga.

Urus anjing meski berhijab

Bercerita sebagai petugas K-9 berhijab, Nurul Nisasih Qomariah mengaku sempat secara khusus bertemu dengan pengajar agama untuk bertanya tentang pekerjaannya yang mengharuskan dia berurusan dengan anjing.

“Sempat kita bingung yang soal najisnya bagaimana. Saya datangin ustadz bagaimana dengan pekerjaan saya seperti ini, kemudian dia menjelaskan bagaimana caranya. Setelah itu saya lakuin tata caranya,” tutur Nurul.

Dia menambahkan, kalau untuk pekerjaannya menjadi pengurus dan pelatih anjing pelacak sempat dipertanyakan oleh keluarga.

“Mungkin mereka akhirnya juga paham istilahnya di sini kita niatnya baik, istilahnya bekerja membantu negara untuk pemberantasan dan peredaran gelap narkotik,” sebut perempuan berusia 25 tahun ini.

Berbeda dengan Widya, selama lebih dari tiga tahun Nurul bekerja untuk unit K-9 BNN, belum pernah dia mengalami perpisahan dengan hewan kesayangannya.

Heppy, nama anjing beagle yang dipegangnya sejak awal, sejak 2015 hingga kini menjadi rekan kerja yang menyenangkan hari-hari Nurul. Seperti namanya, anjing berbadan kecil itu pun memiliki karakter periang.

“Heppy sih anaknya itu pecicilan enggak bisa diam. Cuma untuk sampai ngegigit ya enggak pernah. Heppy itu periang, enggak bisa diam,” kata Nurul sambil tertawa.

Mengingat awal pertemuannya dengan Heppy, Nurul mengaku anjing kecil berwarna cokelat putih itu sebenarnya bukan tugas pertama dia.

Seekor anjing hitam ras Belgian Malinois awalnya menjadi tandem Nurul. Namun, saat itu ada sedikit ketakutan yang dirasakannya.

“Kok rasanya besar banget. Kemudian aku bilang ke komandan, ‘Ndan boleh enggak aku sama yang kecil dulu?’ Saya bilang masih takut. Akhirnya komandan ngasih izin megang jenis beagle. Akhirnya sampai sekarang sama Heppy,” tukas Nurul.

sumber