Hachiko

Kisah ini berawal dari seekor anjing ras Akita yang lahir pada tahun 1923 di kota Odate, Prefektur Akita. Dan pada tahun berikutnya 1924 anjing tersebut di adopsi oleh seorang profesor Fakultas Pertanian Universitas Imperial Tokyo yang sudah ada pada masa itu. Hidesaburo Ueno namanya dan biasa dipanggil sebagai Mr. Ueno atau Mr. Profesor. Mr. Ueno menamai anjing ras Akita ini dengan nama “Hachiko” yang biasa di panggil dengan “Hachi”. Pak Ueno merawat Hachi dengan sangat baik hingga Hachi pun juga sangat menyayangi tuannya Ueno. Setiap pagi hingga sore hari, Hachi akan mengantarkan majikannya ke stasiun kereta Shibuya yang lokasinya dekat dengan kediamannya hingga menunggunya pulang.

Namun hari-hari menyenangkan ini tidaklah bertahan lama, karena baru 1 tahun setelah Hachi di adopsi oleh Ueno dan keluarga Ueno. Ueno sang profesor tiba-tiba mengalami stroke saat tengah menghadiri rapat di Fakultas sampai akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal Uneo, Hachi enggan dan menolak untuk beranjak dari tempat yang biasa ia tempati untuk menunggu sang profesor. Walau pada akhirnya ia pulang dengan tampak begitu murung dengan kesedihannya. Untuk itu bisa dibayangkan betapa mengejutkannya peristiwa meninggalnya majikan sang anjing itu.

Lalu setelah Ueno meninggal, Hachi diadopsi oleh kenalan dari Ueno dan pindah ke Asakusa. Akan tetapi walaupun sudah pindah bersama majikan barunya, tapi sang anjing sering terlihat menuju ke stasiun Shibuya. Kikusaburo Kobayashi adalah nama salah seorang teman satu lingkungan dari keluarga Ueno sangat merasakan adanya ikatan batin sang anjing Hachi kepada majikannya Ueno. Sampai akhirnya memindahkannya dari Asakusa ke rumahnya sendiri. Walaupun kenyataannya rumah keluarga Kobayashi terletak sekitar 700-800m dari rumah Ueno, setiap malam, Hachi berjalan-jalan di sekitar rumah Ueno yang dulu, dan menuju ke stasiun kereta, lalu kemudian duduk di depan gerbang tiket di Stasiun Shibuya, seolah-olah dia sedang menunggu sang profesor Ueno untuk pulang ke rumah. Sang anjing Hachi pun terus melakukan hal ini sampai hampir 10 tahun lamanya. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus karena jarang makan, setelah menunggu hampir 10 tahun lamanya hingga kemudian dia sudah tak bernyawa di pinggir jalanan stasiun Shibuya dengan penantiannya di tahun 1935.

Foto Terakhir Hachiko

Hachiko meninggal di dekat stasiun Shibuya pada tanggal 8 Maret 1935. Mayat Hachiko di bawa ke kamar yang ada di bagasi Stasiun tersebut yang juga merupakan tempat favorit saat menunggu majikannya. Foto diatas juga merupakan foto yang diambil saat Hachiko berada di ruang bagasi dan esok harinya foto tersebut muncul di harian Shimbun Yamato. Foto momentum kematian hachiko diatas memuat gambar dari Yaeko Ueno (istri Hidesaburo Ueno, sang majikan Hachiko – kedua dari kanan) beserta staf stasiun Shibuya.

Makam Hachiko

Jasad Hachiko dikuburkan di sebelah makam tuannya Ueno-sensei di sebuah daerah pemakaman besar yang dinamakan Aoyama Reien (makam Aoyama) di daerah Minato-ku, Tokyo. Makam Hachiko ini merupakan salah satu makam elit di Tokyo yang juga merupakan salah satu makam umum tertua di Jepang. Mengusik lebih dalam, ternyata tanah kompleks pemakaman ini berasal dari sumbangan klan Aoyama yang berasal dari wilayah prefektur Gifu yang merupakan keluarga bangsawan Shogun. Kompleks pemakaman ini dihuni oleh para petinggi dan pesohor Jepang di masa-masa zaman Modern Jepang. Sehingga makam ini termasuk makam penting dalam sejarah modern Jepang.

Patung Hachiko

Atas perbuatan Hachi yang mengharukan dan mengesankan itu, lalu anjing tersebut mendapatkan julukan “Chuken Hachiko” yang berarti (Hachiko si Anjing Setia). Oleh karenanya kisah itu menjadi perhatian hingga pada saat itu berita tersebut tersebar ke seluruh penjuru Jepang. Sebagai penghargaan atas kesetiaannya, pemerintah Jepang membuat sebuah patung perunggu yang didirikan di depan stasiun Shibuya dan diletakkan persis pada posisi di mana dia selalu menunggu majikannya setiap hari di depan stasiun. Patung Hachiko pun dijadikan simbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati. Dan meskipun Hachi berumur pendek, namun kisahnya akan terus hidup setelah kematiannya. Karena banyak orang yang merasa simpati dengan sang anjing, maka di gambarkan dengan membangun patung perunggu tersebut agar kisahnya tak akan terlupakan. Dan hingga saat ini patung Hachiko menjadi tujuan wisata di Tokyo Jepang.

Semoga saat ini Hachiko sudah bisa bermanja-manja dengan tuannya di surga dan semoga kisah kesetiaan anjing Hachiko ini bisa kita ambil pelajarannya bahwa kesetiaan adalah inti dari kasih sayang.

sumber