Haruskah Kita Bicara Manis pada Anjing, Seolah Mereka Bayi?

Mengapa kita membuat suara manis saat berkomunikasi dengan anjing, seolah hewan itu bayi?

Mungkin sebagian dari kita benar-benar menganggap hewan peliharaan seperti anak sendiri. Namun tanpa disadari sebenarnya ada aspek lain yang mendukung hal tersebut. Seperti dilansir Seeker, Rabu (7/11/2018), sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa berbicara dengan nada yang tinggi dan manis akan membuat hewan peliharaan, terutama anjing, lebih memperhatikan kita.

Manusia dan anjing telah bersahabat sejak ribuan tahun lalu. Mulai dari berburu bersama, bermain, berpelukan, dan bahkan secara genetika berevolusi bersama sepanjang perjalanan sejarah. Jadi, masuk akal bahwa kita memiliki cara berkomunikasi dengan mereka, terlepas dari fakta anjing tidak dapat benar-benar membalasnya.

Cara berkomunikasi manusia dengan anjing disebut pet-directed speech (PDS). Hal ini sangat mirip dengan cara kita berbicara pada bayi atau yang disebut infant-directed speech (IDS).

Kedua pola komunikasi itu memiliki ciri suara lambat, bernada tinggi, mengulangi kata, dan terdengar lebih positif atau bahagia dibanding berbicara dengan manusia dewasa. Bagi bayi, cara berkomunikasi seperti ini dapat membantu mereka untuk belajar bahasa, menciptakan ikatan antara bayi dan pengasuhnya, dan membantu bayi lebih memperhatikan kita. Fungsi terakhir itu ternyata juga terbukti berlaku untuk anjing.

Hal ini seperti laporan yang dibuat para ahli dari Université Paris Nanterre, Perancis. Mereka menemukan bahwa anjing dari segala usia lebih memperhatikan manusia yang berbicara dengan pola PDS dibanding suara normal.

Anjing dan bayi tidak memiliki bahasa verbal. Intonasi vokal yang diucapkan akan memainkan peran sentral dalam komunikasi orang dewasa kepada mereka,” kata penulis utama studi, Sarah Jeannin kepada Seeker. Jeannin dan timnya memiliki sembilan responden yang ditugaskan untuk bertanya “Haruskah kita jalan-jalan?” pada bayi, anjing, dan orang dewasa.

Percakapan yang dilakukan kesembilan responden itu direkam. Setelah semua melakukan tugasnya, para ahli kemudian memutar ulang rekaman dan diperdengarkan ke anjing yang berbeda. Ahli selanjutnya memantau bagaimana anjing memberikan perhatian pada setiap versi pertanyaan tersebut.

Dari sini mereka menemukan bahwa anjing dewasa jelas lebih memperhatikan ucapan yang dengan cara PDS dibanding ucapan yang diarahkan untuk orang dewasa. Sementara ucapan yang ditujukan untuk bayi, perhatian yang ditunjukkan ada di tengah-tengah. Bagi Jeannin, apa yang dibuktikannya tidak membuat dia terkejut.

“Saya memutuskan untuk membuat eksperimen ini karena saya memperhatikan anjing lebih memperhatikan manusia yang berbicara dengan suara bernada tinggi,” imbuhnya.

Temuan ini secara langsung menyanggah penelitian lain yang mengatakan bahwa hanya anak anjing yang merespon ucapan berpola PDS, bukan anjing dewasa. Dalam temuan Jeannin, ia menemukan anak anjing merespons semua suara manusia pada umumnya, dan anjing dewasa lebih memberi perhatian pada manusia yang berkomunikasi dengannya menggunakan PDS.

Perbedaan hasil temuan, menurut Jeannin dikarenakan percobaan sebelumnya hanya menggunakan sampel kecil dan mereka merekam responden yang berbicara dengan gambar anjing bukan hewan asli. Para peneliti berpikir bahwa anjing memperhatikan PDS karena meningkatkan pemrosesan saraf, yang bagaimana otak membuat rangsangan. Ini cara kerja IDS yang sama pada bayi.

Para peneliti berspekulasi bahwa mungkin kita berevolusi untuk berbicara dengan anjing dengan cara ini karena nenek moyang kita memahami pentingnya menjaga hubungan erat dengan anjing. Jadi silakan lanjutkan berbicara pada anjing dengan suara yang manis dan imut. Mereka tentu saja tidak akan keberatan.

sumber