Waspada Penularan Rabies pada Manusia

Kementerian Kesehatan mencatat hingga 2018 penyakit rabies masih menjadi endemis di 25 provinsi di Indonesia. Adapun baru-baru ini, Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies melanda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rabies merupakan salah satu wabah yang paling mematikan. Bahkan satu gigitan anjing rabies bisa merenggut nyawa manusia. Gigitan anjing ini bisa menularkan penyakit rabies kepada manusia yang berujung pada kematian.

Virus rabies tak hanya menyerang anjing, tetapi semua hewan berdarah panas, seperti kucing dan kera.

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, virus rabies menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas. Virus ini bisa menular melalui gigitan dan nongigitan (goresan, cakaran, atau jilatan) pada kulit yang terbuka (luka) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies.

”Setelah masuk ke dalam tubuh, virus rabies bereplikasi dan menjalar dari susunan syaraf perifer ke susunan syaraf pusat,” kata Nadia, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (1/3/2019)

Gejala klinis akan muncul setelah virus rabies mencapai susunan saraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus, dan batang otak. Virus rabies menyebar melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah.

”Hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa mendiagnosa dini sebelum muncul gejala klinis rabies,” kata Nadia.

Gejala rabies pada hewan sangat bervariasi, antara lain adanya perubahan tingkah laku seperti mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk terhadap pemilik, pica (memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanannya).

Gejala lainnya, yakni hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, inkoordinasi, kejang-kejang, paralisis/lumpuh dan akan mati dalam waktu 14 hari. Namun umumnya hewan akan mati pada 2-5 hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.

Sedangkan rabies pada manusia adalah menunjukkan gejala radang otak akut (encephalitis), seperti hiperaktifitas, kejang, atau kelumpuhan (paresis/paralisis). Terjadi koma dan biasanya meninggal karena gagal pernafasan pada hari ke 7-10 sejak timbul gejala pertama (onset) dan mempunyai riwayat gigitan oleh hewan penular rabies (HPR).

”Apabila penderita rabies telah menunjukan tanda klinis, biasanyaa berujung pada kematian, baik pada hewan maupun manusia. Biasanyaa hewan rabies akan mudah agresif menyerang manusia tanpa sebab, kondisi ini mengakibatkan timbulnya rasa takut dan kekhawatiran bagi masyarakat,” kata Nadia.

Bila terkena gigitan HPR, Nadia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan pencucian luka gigitan HPR secara mandiri dan pergi ke Puskesmas atau RS untuk penanganan lebih lanjut. Serta melaporkan kepada Dinas Peternakan atau Puskeswan setempat jika ada HPR yang menggigit.

sumber